Senin, 12 Maret 2012

Teman dalam Kematian

Senja berakhir malam pun menyambut gembira
Gemericik suara air terdengar merdu diantara telinga-telinga
Hembusan angin malam mulai terasa menyentuh kalbu
Suara adzan menggema, sejagad rayapun tersenyum
Sembari bersujud pada sang Khalik


Adakah hati kita terketuk dan terbawa ke dalamnya
Kedalam rumah-rumah pengantar kehidupan abadi
Atau terdiam dalam kebimbangan

Kita terlalu cape dengan dunia kita,
Kita terlalu lelah dengan urusan kita
Dan kita terlalu bangga akan harta-harta kita
Yang sebenarnya semu di mata dunia

Kenapa tak kita singkirkan sejenak semua itu
Tuk mengadu dan memohon kepada Nya
Sambil bersujud atas kewajiban kita,
Dan bertahmid atas syukur kita

Kita bagaikan debu-debu diantara angin yang tak berujung usai melangkah
Namun kita juga bagaikan butiran Intan yang tertimbun dalam pasir
Haruskah kita bersujud karena perintah atau bersujud karena takut
Mana akalmu yang engkau bangga-banggakan

Ketika kita terlahir dengan penuh lemah
Penuh kekosongan dan kehampaan
Apa yang engkau rasakan saat itu
Saat dimana engkau buta, buta akan segalanya

Tuhan mu lah yang menjadikan penglihatan mu menjadi terang
Terang menerawang angkasa
Yang nantinya terhanyut oleh mu
Didalam kesombongan yang tak berujung usai

Sewaktunya, tubuh kita rapuh dan terhempas bagai dedaunan kering
Terbawa angin yang akan mengantarkan kita pada kematian
Di manakah kita akan berakhir dalam hidup,
Hidup penuh dengan kekosongan iman

Hey, lihat dan lihat lah langit
Keberadaanya selalu di atas
Dan kemegahan nya melindungi kita
Namun tak sedetik pun waktunya ia sia-siakan
Untuk bersujud pada Nya

Ingat dan ingatlah engkau
Hidup adalah Mati mu
Mati adalah Hidup mu
Hidup dan Mati adalah Hak

Pikirkan lah barang sejenak akan sendirimu
Dalam kematian
Tak ada kawan maupun aman
Kecuali iman dan amal ibadah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar