Sabtu, 29 Desember 2012

Jalan ke padang

Jika mentari masih kau genggam
akupun bergegas memimpin pagi
Jika sabit masih menghias bibirmu
akupun beranjak memburu malam
"....hanya saja hidup dalam deru, meninggikanmu dan menampar pipiku adalah jalan satu-satunya kita saling mencintai. Dan biarkan jejak perjalanan ini dijemput petang yang saat ini sedang bersenang-senang di surga...."
"....bertelaga,menepi air mata. Mungkin karma adalah jawaban. Wajah-wajah siang itu bagai pelepah, berkelu lidah dibuang duka. Ia adalah ratapan tangan yang meminta kala, saling bertabuh perut nan duka. Darinya ia menelan getah, bukan pelepah batang kurma bukan dari kota kita. Baiknya kita tidur dari anak-anak randu...."

Kidung Lima Belas

Kidung, aku pernah berebut syair denganmu
Apakah kau lupa?
Ia mengisi kemustahilan kita saat bukit tua itu runtuh
Menghujani mataku dengan debu dibulan oktober bukan?