"....hanya saja hidup dalam deru,
meninggikanmu dan menampar pipiku adalah jalan satu-satunya kita saling
mencintai. Dan biarkan jejak perjalanan ini dijemput petang yang saat
ini sedang bersenang-senang di surga...."
"....bertelaga,menepi air mata. Mungkin karma
adalah jawaban. Wajah-wajah siang itu bagai pelepah, berkelu lidah
dibuang duka. Ia adalah ratapan tangan yang meminta kala, saling
bertabuh perut nan duka. Darinya ia menelan getah, bukan pelepah batang
kurma bukan dari kota kita. Baiknya kita tidur dari anak-anak randu...."
Kidung, aku pernah berebut syair denganmu Apakah kau lupa? Ia mengisi kemustahilan kita saat bukit tua itu runtuh Menghujani mataku dengan debu dibulan oktober bukan?