Sabtu, 29 Desember 2012

Kidung Lima Belas

Kidung, aku pernah berebut syair denganmu
Apakah kau lupa?
Ia mengisi kemustahilan kita saat bukit tua itu runtuh
Menghujani mataku dengan debu dibulan oktober bukan?


Bercerai beralah kita saat itu dan berlari entah
Kita sama-sama mengecup hawa dibulan januari berikutnya, seharusnya
Duduk dan tidur dibawah tarian si kunang yang malang
Ah, ternyata kita sama-sama pengkhianat kesabaran masing-masing

Aku belum berhenti mengunduh waktu
Walau masih terlambat mengahadiri bibir merahmu
Kidung, selamat malam....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar