Jumat, 29 Juni 2012

Rehat

Bila langit tak berwarna biru
Maka pergilah kalian ke samudera
Bila ternyata masih sama
Maka biarkan malam bergilir memanjang

Gugur Bunga



Gugur bunga di pangkuan kerinduan
Gugur bunga terbang dan terserak jarak
Gita lenyap kembali senyap
Di sela-sela tangis yang terasing

Kaum Bercaping

Pada Merah menyala di ufuk ubun-ubun
Mendiami singgasana sebelum mulai beranjak
Dengar kesenyapan merangkai harmoni
Kabut penutup mata masih terjaga

Rona

Matilah suara itu
Yang tiap malam kuberi nada:tanpa tahu ia adalah nada
Tak hanya riang gaduh itu:dari belakang mereka menabuh punggung ini.
Ya! para setan tak lagi bersemayam ketika kau hentakan dan mereka berhamburan keluar.
Sekarang, pingit sajalah dahaga yang kau rindukan bersamanya:karena aku tak disampingmu lagi.

Potret



Malam yang menyulut api
Menyala-nyala diatas atap-atap sunyi
Gagak-gagak memutar,menari dengan kantung berita
Dan petanda itu mengkerutkan kening dipertumbuhan zaman

Melati II

Setetes embun mengkilapi dedaun
Meneduhkan hasrat pagi yang masih sunyi
Hijaunya tulus menerima
Bila layu maka ia pun menyambut

Sajak satu

Ini adalah satu belum sempurna dan tertinggal
Bukan perlambang semata
Ini berwarna serasi selaras pelangi
Bila dihadapkan bunyi maka ia pun menjadi

Sekilas Karena

Denyut waktu memuncak,menanda gemerlap menanti pagi
Menghantar pada sebuah renungan, kala kita mengkeringatkan kening
Di setiap desah keringnya kulit yang retak, berantak-rantak
Tinggal pertanyaan untuk dipertanyakan terus menerus

Jalan yang Membahana

Di bibir aspal jalan pagi
Mereka sedang asyik bercumbu dengan alasnya
Tak menghirau bahwa ia bukan hanya miliknya
Seperti merekapun demikian

Mata Merah

Malam Ini kuberdo'a
Dengan bibir yang basah
Tenggorokan kering
Perut keroncongan

Petikan Sore itu (Tentang Melati)

Ini adalah rindu sang batu
Tak terbatas waktu maupun maut
Tiap saat melesat dan menderu
Sekedar meminang mimpi lewat kalbu

Waktu Kita Telah Mati

Kita telah berlalu merindu
Telah berlalu pula kematianmu menghanyut
Kau pasangkan nisan hitam di rerumputmusendiri
Hingga menjalar meraba sesalmu

Dari Sebuah Pesan


Waktu itu, mendungpun menduga
Keberadaan yang tak sia-sia mulai menancap di sukma
Tunggu sebentarlah dan jangan mencoba
Sesaat jua, semuanya segera berubah 

Lang Ilalang


Ilalang menutup petang
Cakrawala membentang di pulau seberang
Angan-angan terbuang,menghilang
Menekan keganjilan untuk tuan

Sang Bisu


Daun menguning tak berbahasa
Dahan mengering semakin menua
Akarnya tak menjalar bebas melangkah
Dan keluguan air dirampas tanpa jeda

Pesan Dari Bukit


Wanita berbaju kabut
Turun ke tepian kota
Menyeret langkah berbatu
Berpasir, menyisir ditiap bagian jalan

Nur


Dan engkau  pada masanya
Terbit melewati bukit jabal nur          
Salam hangat dari Hawa menyapa
Mampu mencekik para mulut berbusuk

Bocah Surga


Surga bersama mereka        
Para bocah berlari kecil
Menuju taman bidadari
Membawa senyum menanti

Banyak cerita tentang mereka
Tenggelam sebelum berjalan
Berselimutkan tanah merah
Pada batu mereka dikisahkan

Bersamaan Wustha


Bersamaan wustha
Manusia bertanya
Hidup adalah bingkai
Sebagai hiasan atau hakikat