Matilah suara itu Yang tiap malam kuberi nada:tanpa tahu ia adalah nada Tak hanya riang gaduh itu:dari belakang mereka menabuh punggung ini. Ya! para setan tak lagi bersemayam ketika kau hentakan dan mereka berhamburan keluar. Sekarang, pingit sajalah dahaga yang kau rindukan bersamanya:karena aku tak disampingmu lagi.
Denyut waktu memuncak,menanda gemerlap menanti pagi
Menghantar pada sebuah renungan, kala kita mengkeringatkan kening
Di setiap desah keringnya kulit yang retak, berantak-rantak
Tinggal pertanyaan untuk dipertanyakan terus menerus