Minggu, 22 Juni 2014

-- Bilakah --


Bilakah kita
Menghitung bintang bersama
Ketika malam tiba
Melukis warna rembulan
dalam pandangan yang sama

-- sama-sama di bawah langit--

bila aku harus menjauhimu, aku akan memulainya dengan berjalan mundur.aku akan menghayati lambai tanganmu selangkah demi selangkah.kemudian saat mataku mulai berkaca-kaca, aku akan berkedip untuk membiarkan pipiku basah.Aku akan menangisi jarak sambil menaruh harap untuk melayang-layang diatas tanah. Karna sejauh apapun kita terpisah, kita sama-sama berada di bawah langit,masih dalam bumi yang tidak lelah berputar terus.

zilfanna zaffa mutasimbilah

--Tulisanmu di hidupku--

Kau menulis dalm barunya hidupku
kau hantarkan hurup-hurup yang sesungguhnya tak ku kenali, aksara yang siapa tau indah.
namun hati siapa yang dapat menterjemahkannya?
hatiku?
ribuan lembar cerita yang hany mampu ku pandangi dengan menganga mimik polos yang yang begitu saja terlempar menyorot kata demi kata
entah kata-kata itu berbaris atau bertumpuk begitu saja
entah kata-kata itu di rangkaiatau porak poranda tetapi mungkin kata-kata itu di penuhi warna, seperti setumpukan kelopak bunga yang di tiup angin di musim gugur
atau jangan-jangan
bunga-bunga itu jatuh dari kepal tanganmu,
seakan aku adalah makamnya

-Cinta Tulus-


matahari tak pernah menggerutu
meski cahayanya yg terik terus dikeluh
daun tak pernah marah
meski helainya tertiup angin lalu jatuh
hujan tak pernah resah
meski ia harus pergi lalu diganti pelangi

seperti itulah cinta tulus
tak pernah berharap
tak pernah memaksa
cinta tulus hanya tau
bagaimana ia memberi cinta

-- cukup --

sudah cukup
tak perlu harapan-harapan
jika itu hanya gumpalan awan
yang tertiup angin
kemudian menghilang

sudah cukup
memberikan angin segar
masuk jendela melaui pagar
jika hanya permainan kata
tanpa ada makna

sudah cukup
bermain-main dengan hati
bercengkrama dengan derita
bak angin surga
tapi hasilnya panas seperti gurun sahara

-Tanpa-


Aku tatap pelangi tanpa bisa menyentuhnya
Aku rasakan hembusan angin tanpa bisa memegangnya
Aku tersentuh hangat mentari tanpa bisa menatap silau cahayanya
Keindahannya yang ternikmati dalam hati dan rasa
Akan terus terjaga hingga waktu menghantarkan senja

zilfanna

Sanjak Pagi

Neng, matahari terbit karena mengganti waktu
kisah daun dan embun adalah nur cinta baginya
ia menjamah setiap hening dan sunyi
membawa setumpuk cita bagi yang meraupnya

dari bilik tabir dan tiap jejak hati
ia berserah menjalani kesendiriannya
melukiskan sederet sanjak pada kanvas putihnya
menterjemahkan keenggananmu dalam diam

Ia belajar merangkai puisi yang pudar
ia belajar melagukan tiap bait syairmu
ia tak pernah terhentikan mengejar langkahmu
Ia belajar mencintai ketulusan cintanya hanya padamu, neng.

Bangku Kemara

adalah sendiri yang terjegal sepi
genderang gelisah mengisyarat hati
mengoyak perihal nama yang hendak hilang
dan akhirnya lumpuh pada rencana yang baru tumbuh

Peristiwa Jarak

Dentum suaramu berserak dalam hati
ketika langit menangisi setiap hadiah tuhan yang terhenti
pada bumi dimana tetes-tetes matamu berkelu kesah
terbelenggu tentang harapan yang semu

Janji Bulan Juni ( untukmu kekasih )

menulis kisah denganmu
keatas samudera bergelombang
dibawah sinar bintang terang
dan lambai tanganmu itu menguatkan