Kau menulis dalm barunya hidupku
kau hantarkan hurup-hurup yang sesungguhnya tak ku kenali, aksara yang siapa tau indah.
namun hati siapa yang dapat menterjemahkannya?
hatiku?
ribuan lembar cerita yang hany mampu ku pandangi dengan menganga mimik polos yang yang begitu saja terlempar menyorot kata demi kata
entah kata-kata itu berbaris atau bertumpuk begitu saja
entah kata-kata itu di rangkaiatau porak poranda tetapi mungkin kata-kata itu di penuhi warna, seperti setumpukan kelopak bunga yang di tiup angin di musim gugur
atau jangan-jangan
bunga-bunga itu jatuh dari kepal tanganmu,
seakan aku adalah makamnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar