Sabtu, 29 Desember 2012

Jalan ke padang

Jika mentari masih kau genggam
akupun bergegas memimpin pagi
Jika sabit masih menghias bibirmu
akupun beranjak memburu malam
"....hanya saja hidup dalam deru, meninggikanmu dan menampar pipiku adalah jalan satu-satunya kita saling mencintai. Dan biarkan jejak perjalanan ini dijemput petang yang saat ini sedang bersenang-senang di surga...."
"....bertelaga,menepi air mata. Mungkin karma adalah jawaban. Wajah-wajah siang itu bagai pelepah, berkelu lidah dibuang duka. Ia adalah ratapan tangan yang meminta kala, saling bertabuh perut nan duka. Darinya ia menelan getah, bukan pelepah batang kurma bukan dari kota kita. Baiknya kita tidur dari anak-anak randu...."

Kidung Lima Belas

Kidung, aku pernah berebut syair denganmu
Apakah kau lupa?
Ia mengisi kemustahilan kita saat bukit tua itu runtuh
Menghujani mataku dengan debu dibulan oktober bukan?

Rabu, 24 Oktober 2012

Pintu Senja

Aku meniti urat nadiku

Menelusuri setiap jengkal bercak-bercak jejakmu

Mungkin masih sempat kutarik lagi;sebelum pagi

Sebentar, tunggu sebentar sebelum kau terlelap

Rabu, 17 Oktober 2012

Hujan Mengeja Namamu

Aku lega kau datang
Telah berbulan-bulan jejakku kian mengering
Ia rindu dibasuh dan mengikat harapan
Dan tumbuhnya lagi dedaunan; dari akar yang kuat, sekuat kata setia

Sajak Sepi

Bukan kesendirian namanya jika senyap masih berdenyut;
Ketika wajah kita habis berperan, bercermin ulang bila perlu
Dan jubah malam tak akan pernah berhenti untuk mati bahkan behenti bersuara;
Maka akan ada jejak di bajumu esok hari
 
Bukan kesunyian yang angkuh namanya;
Padahal kita terjajah oleh sebenarnya perbedaan diatas bukit raga
Dan kita selalu mengira bahwa keharuman itu akhir dari penilaian
Maka kita tetap saja berjalan dan pulang tanpa arah.

Sabtu, 21 Juli 2012

Sirah Untuk Amira


Pagi di Pucuk mulut burung
Berkicau menyapu langit biram menyala
Lalu kulit rembulan berwarna perak kembali mengikis
Dan mencium  merang yang hangat untuk tersaji

Rabu, 18 Juli 2012

Melati Berdaun Pelangi


Sebaris gadis syurga memberi khabar
Sepenggal cerita yang tersangkut di awan
Mereka mencoba mencairkan kekhawatiran
Karena mereka tak sepenuhnya bertamu

Tiga Dari Namamu


Dari genggam tanganku mulai terasa
Sentuhan nafas yang tersedat karena kaca
Dikau menumpu lugu lutut yang luka
Pada bangku di istana kabut

Selasa, 17 Juli 2012

Farah


Ia sedang berpelangi
Di atas laut sebagai cermin
Ia juga sedang diatas kereta kencana
Dan menanam tapaknya kedasar

Rabu, 11 Juli 2012

Kota Yang Tak Tertidur

Penggalan dari sebuah kenangan di altar, sebuah lahan terbentang bersama perjanjian. Meski telah hilang, kota ini menjadi sekian dari saksi yang msih kokoh dengan sekebun pisang hijau.
Aku kembali dan hendak membungkus kemesraan itu, tanpa sepasang cerita lagi.

Sabtu, 07 Juli 2012

Elite Kata

Ia mengubah nasibnya melalui jemari di kantong awan
Matanya berbulu lilin dan membakar disetiap pandangan
Dari kejauhan ia mengelap atap mulutnya hingga tak berbenang
Agar ketika menyusun kalimat-kalimat semakin menjadi lantang

Laras II

Dia sedang mencari air yang bening, dibukitnya, mereka seolah tandus tak berimbunkan oleh payung-payung yang menari. Pada mulanya nama itu adalah beberapa dari yang gugur; ternyata dari tangannya menuntunku untuk meng-eja namanya.

Zaman Belakang


Zaman: Coretan pada kertas memaksa membaca sendiri, didepan, menari sambil bercumbu. Ia asing setelah khatam, mereka sibuk membenarkan topi. Kemudian membentuk perhelatan.
Ditangan mereka menggenggam roti,diletakannya didalam kantong baju, disiapkan untuk menjaring siang hingga petang. Kemudian mereka sengaja mencipta malam di ruang belajar. Memberi tabir pada benda agar tak mendirikan bayangan. Namum mereka lupa bahwa dinding-dindingpun hidup dan mengamati.

Jumat, 06 Juli 2012

'Biarkan Pelayaran Ini'

Tak kuasa sepertinya malam ini
harus berlayar beriring sepi
tak ada yang duduk manis disisi
tak ada pula yang menyiapkan kopi

Satu dari Sekian Sudut

Per-awalan tak lama bersinggah. Sekejap seperti lenyap dan membuat kembali pekat. Belum lama sederet asap menjulang ke atap logika, merebut kesadaran pikirku yang berlalu dan menjemu. Mewarnai lembar kanvas pribadi yang buram menuntun kegemerlapan.Seperti kini pergi tak membekas atau masih bersambung?
Entah:tiba-tiba langkahku teduduk pada bangku dan bertemu,ber-alaskan bambu yang menua. "Entah" ku ulangi kalimat ini:karena ada keterasingan yang belum usai kuterka. Dan menjadi tanda untuk dikirimkan.

Gadis Tanpa Alis


Aku mendengar ada tangis merintih
Tentang gadis tanpa alis dimatanya
Kutanya " Apakah kau bersedih?"
Ia pun menjawab " Aku sedih jika Suamiku kelak tak menyentuh keningku"
Kembali kulugaskan puisiku
Perihal letak tak berbaris
Memaku deru di sudut kelabu
Hingga kemuning sedari kusut sebelum terpetik
Pada rangkaian anggrek bulan di purnama
Bingkaikan saja kesempatan ini
Jika bertemu maka beradu rindulah dengan tepat
Jika bersedia berlabuhlah, tambatkan dengan jangkar seadanya
Bukan sekuatnya.

Jalur Pulang


Ku lihat kerinduan sedang mengapung dimatamu
Melambaikan do'a tuk menjemput nahkoda
Lewat jalur berbelok dan berkarang
Perahu itu terdayung dan terdampar diselat  penantian
Karenanya alap-alap merangkai pesan
Saat awan membingkai langit
Disitu kenangan baru ingin ku lukis
Bersamamu indahkan duniaku

Kesunyian Tak Bersayap


Aku masih sendiri
Seperti yang tertera pada jalur sunyi
detik-detik perlahan mulai mengikis
oleh tangisan langit yang semakin habis

Nyanyian Kabut


Sepertinya semua ini berkah Ilahi
Berlubang, tembus pandang dan menjerat
Jemari kita belum sama-sama mekar
Maka lebih baik saja kita menggenggam erat sendiri

Dari Bisik

Mendengar rangkuman debu di pulau seberang semacam katak yang sedang mendengkur di lubang penglihatan. Ia meraih kain kuning diantara yang merah menyala kemudian terdiam menunggu sekerumunan manusia untuk menjabat tangannya dengan kalimat "Semoga kebahagiaannya terencana dengan baik" .

Laras I


Dia sedang mencari air yang bening, dibukitnya, mereka seolah tandus tak berimbunkan oleh payung-payung yang menari. Pada mulanya nama itu adalah beberapa dari yang gugur; ternyata dari tangannya menuntunku untuk meng-eja namanya.

Selasa, 03 Juli 2012

Laras


Kulihat kalian telah memakan banyak waktu
Menderu jalan bebatu di persimpangan ragu
Searah kompas di utara musim gugur
Saling bersepakat setia guna memanjangkan umur

Minggu, 01 Juli 2012

Di Seberang yang Hilang



Sungguh wajahnya tak sedikitpun berubah
Sama seperti yang tergambar dalam hatiku
Yang gersang selama dalam perjalanan waktu

Untuku Indonesia


Negeriku mengadu pilu
Untuknya menjadi ragu
Rahasia alam pun tersipu malu
Amanat Tuhan belum  terwujud

Membelai Senja


Di telaga hutan tersiar kabar duka
Dibawa gagak yang pekat
Tertuju alam petang
Dalam pangkuan kesendirian

Bidadari Dalam Mimpi


Engkau hadir disela-sela letihku
Engkau sirami dahaga malam-malamku

Wanita Sunyi


Engkau yang dulu ku kagumi
Kini berakhir dalam mimpi
Cinta yang dulu ku nanti
Kian membekas sunyi

Berkaca Hati

Di balik sebuah muara
Tersimpan seribu makna
Terjaga dalam keheningan
Tersimpan nuansa ramah

Rona II

Kulihat dirimu tersenyum diantara malam penuh Tanya
Kulihat pula hujan telah berganti dengan pelangi
Dan parkit-parkit cantik mewarnai sore itu
Entah dimana yang satu bisa ku jumpai
Seperti asyik bercengkerama dengan hatinya

Jumat, 29 Juni 2012

Rehat

Bila langit tak berwarna biru
Maka pergilah kalian ke samudera
Bila ternyata masih sama
Maka biarkan malam bergilir memanjang

Gugur Bunga



Gugur bunga di pangkuan kerinduan
Gugur bunga terbang dan terserak jarak
Gita lenyap kembali senyap
Di sela-sela tangis yang terasing

Kaum Bercaping

Pada Merah menyala di ufuk ubun-ubun
Mendiami singgasana sebelum mulai beranjak
Dengar kesenyapan merangkai harmoni
Kabut penutup mata masih terjaga

Rona

Matilah suara itu
Yang tiap malam kuberi nada:tanpa tahu ia adalah nada
Tak hanya riang gaduh itu:dari belakang mereka menabuh punggung ini.
Ya! para setan tak lagi bersemayam ketika kau hentakan dan mereka berhamburan keluar.
Sekarang, pingit sajalah dahaga yang kau rindukan bersamanya:karena aku tak disampingmu lagi.

Potret



Malam yang menyulut api
Menyala-nyala diatas atap-atap sunyi
Gagak-gagak memutar,menari dengan kantung berita
Dan petanda itu mengkerutkan kening dipertumbuhan zaman

Melati II

Setetes embun mengkilapi dedaun
Meneduhkan hasrat pagi yang masih sunyi
Hijaunya tulus menerima
Bila layu maka ia pun menyambut

Sajak satu

Ini adalah satu belum sempurna dan tertinggal
Bukan perlambang semata
Ini berwarna serasi selaras pelangi
Bila dihadapkan bunyi maka ia pun menjadi

Sekilas Karena

Denyut waktu memuncak,menanda gemerlap menanti pagi
Menghantar pada sebuah renungan, kala kita mengkeringatkan kening
Di setiap desah keringnya kulit yang retak, berantak-rantak
Tinggal pertanyaan untuk dipertanyakan terus menerus

Jalan yang Membahana

Di bibir aspal jalan pagi
Mereka sedang asyik bercumbu dengan alasnya
Tak menghirau bahwa ia bukan hanya miliknya
Seperti merekapun demikian

Mata Merah

Malam Ini kuberdo'a
Dengan bibir yang basah
Tenggorokan kering
Perut keroncongan

Petikan Sore itu (Tentang Melati)

Ini adalah rindu sang batu
Tak terbatas waktu maupun maut
Tiap saat melesat dan menderu
Sekedar meminang mimpi lewat kalbu

Waktu Kita Telah Mati

Kita telah berlalu merindu
Telah berlalu pula kematianmu menghanyut
Kau pasangkan nisan hitam di rerumputmusendiri
Hingga menjalar meraba sesalmu

Dari Sebuah Pesan


Waktu itu, mendungpun menduga
Keberadaan yang tak sia-sia mulai menancap di sukma
Tunggu sebentarlah dan jangan mencoba
Sesaat jua, semuanya segera berubah 

Lang Ilalang


Ilalang menutup petang
Cakrawala membentang di pulau seberang
Angan-angan terbuang,menghilang
Menekan keganjilan untuk tuan

Sang Bisu


Daun menguning tak berbahasa
Dahan mengering semakin menua
Akarnya tak menjalar bebas melangkah
Dan keluguan air dirampas tanpa jeda