Ia mengubah nasibnya melalui jemari di kantong awan
Matanya berbulu lilin dan membakar disetiap pandangan
Dari kejauhan ia mengelap atap mulutnya hingga tak berbenang
Agar ketika menyusun kalimat-kalimat semakin menjadi lantang
Musim mengumpat tiada pernah dipeluknya
Purnama melintas terlalu cepat tak membekas
Pecahan marmer merah kini telah memutih
Seputih rambutnya yang terbakar kelas sosial
Aku duduk bersama mereka
Tiada segenggam kalimat kenyang yang kudapat
Mereka berkata "Kami hanya boneka periang tangisan"
Dan akupun paham demikian
Lalu kucari ia diantara keranjang yang manja
yang berbuah tak melepas diri mem-bumi
Lagi-lagi kalimatku menjadi mati
Kalimatku mati....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar