Sabtu, 07 Juli 2012

Elite Kata

Ia mengubah nasibnya melalui jemari di kantong awan
Matanya berbulu lilin dan membakar disetiap pandangan
Dari kejauhan ia mengelap atap mulutnya hingga tak berbenang
Agar ketika menyusun kalimat-kalimat semakin menjadi lantang

Laras II

Dia sedang mencari air yang bening, dibukitnya, mereka seolah tandus tak berimbunkan oleh payung-payung yang menari. Pada mulanya nama itu adalah beberapa dari yang gugur; ternyata dari tangannya menuntunku untuk meng-eja namanya.

Zaman Belakang


Zaman: Coretan pada kertas memaksa membaca sendiri, didepan, menari sambil bercumbu. Ia asing setelah khatam, mereka sibuk membenarkan topi. Kemudian membentuk perhelatan.
Ditangan mereka menggenggam roti,diletakannya didalam kantong baju, disiapkan untuk menjaring siang hingga petang. Kemudian mereka sengaja mencipta malam di ruang belajar. Memberi tabir pada benda agar tak mendirikan bayangan. Namum mereka lupa bahwa dinding-dindingpun hidup dan mengamati.

Jumat, 06 Juli 2012

'Biarkan Pelayaran Ini'

Tak kuasa sepertinya malam ini
harus berlayar beriring sepi
tak ada yang duduk manis disisi
tak ada pula yang menyiapkan kopi

Satu dari Sekian Sudut

Per-awalan tak lama bersinggah. Sekejap seperti lenyap dan membuat kembali pekat. Belum lama sederet asap menjulang ke atap logika, merebut kesadaran pikirku yang berlalu dan menjemu. Mewarnai lembar kanvas pribadi yang buram menuntun kegemerlapan.Seperti kini pergi tak membekas atau masih bersambung?
Entah:tiba-tiba langkahku teduduk pada bangku dan bertemu,ber-alaskan bambu yang menua. "Entah" ku ulangi kalimat ini:karena ada keterasingan yang belum usai kuterka. Dan menjadi tanda untuk dikirimkan.

Gadis Tanpa Alis


Aku mendengar ada tangis merintih
Tentang gadis tanpa alis dimatanya
Kutanya " Apakah kau bersedih?"
Ia pun menjawab " Aku sedih jika Suamiku kelak tak menyentuh keningku"
Kembali kulugaskan puisiku
Perihal letak tak berbaris
Memaku deru di sudut kelabu
Hingga kemuning sedari kusut sebelum terpetik
Pada rangkaian anggrek bulan di purnama
Bingkaikan saja kesempatan ini
Jika bertemu maka beradu rindulah dengan tepat
Jika bersedia berlabuhlah, tambatkan dengan jangkar seadanya
Bukan sekuatnya.

Jalur Pulang


Ku lihat kerinduan sedang mengapung dimatamu
Melambaikan do'a tuk menjemput nahkoda
Lewat jalur berbelok dan berkarang
Perahu itu terdayung dan terdampar diselat  penantian
Karenanya alap-alap merangkai pesan
Saat awan membingkai langit
Disitu kenangan baru ingin ku lukis
Bersamamu indahkan duniaku

Kesunyian Tak Bersayap


Aku masih sendiri
Seperti yang tertera pada jalur sunyi
detik-detik perlahan mulai mengikis
oleh tangisan langit yang semakin habis

Nyanyian Kabut


Sepertinya semua ini berkah Ilahi
Berlubang, tembus pandang dan menjerat
Jemari kita belum sama-sama mekar
Maka lebih baik saja kita menggenggam erat sendiri

Dari Bisik

Mendengar rangkuman debu di pulau seberang semacam katak yang sedang mendengkur di lubang penglihatan. Ia meraih kain kuning diantara yang merah menyala kemudian terdiam menunggu sekerumunan manusia untuk menjabat tangannya dengan kalimat "Semoga kebahagiaannya terencana dengan baik" .

Laras I


Dia sedang mencari air yang bening, dibukitnya, mereka seolah tandus tak berimbunkan oleh payung-payung yang menari. Pada mulanya nama itu adalah beberapa dari yang gugur; ternyata dari tangannya menuntunku untuk meng-eja namanya.

Selasa, 03 Juli 2012

Laras


Kulihat kalian telah memakan banyak waktu
Menderu jalan bebatu di persimpangan ragu
Searah kompas di utara musim gugur
Saling bersepakat setia guna memanjangkan umur

Minggu, 01 Juli 2012

Di Seberang yang Hilang



Sungguh wajahnya tak sedikitpun berubah
Sama seperti yang tergambar dalam hatiku
Yang gersang selama dalam perjalanan waktu

Untuku Indonesia


Negeriku mengadu pilu
Untuknya menjadi ragu
Rahasia alam pun tersipu malu
Amanat Tuhan belum  terwujud

Membelai Senja


Di telaga hutan tersiar kabar duka
Dibawa gagak yang pekat
Tertuju alam petang
Dalam pangkuan kesendirian

Bidadari Dalam Mimpi


Engkau hadir disela-sela letihku
Engkau sirami dahaga malam-malamku

Wanita Sunyi


Engkau yang dulu ku kagumi
Kini berakhir dalam mimpi
Cinta yang dulu ku nanti
Kian membekas sunyi

Berkaca Hati

Di balik sebuah muara
Tersimpan seribu makna
Terjaga dalam keheningan
Tersimpan nuansa ramah

Rona II

Kulihat dirimu tersenyum diantara malam penuh Tanya
Kulihat pula hujan telah berganti dengan pelangi
Dan parkit-parkit cantik mewarnai sore itu
Entah dimana yang satu bisa ku jumpai
Seperti asyik bercengkerama dengan hatinya