Minggu, 01 Juli 2012

Berkaca Hati

Di balik sebuah muara
Tersimpan seribu makna
Terjaga dalam keheningan
Tersimpan nuansa ramah
Terhitung esok sampai senja
Menembus cakrawala
Berkaca tanpa mengerti cinta
Itukah makna surgawi atau sapaan semata

Diantara dedaunan kering
Diiringi nafas-nafas angin
Bermekaran hati bagai di taman
Melihat anugerah Tuhan

Tak kusangka datangnya menyesakan
Tak kusangka telah terjatuh dalam angan
Raut wajah nan berkilau
Bak melati putih dalam suci

Harum jiwanya dalam kejujuran
Bagai mewarnai indah parasnya
Mengisyaratkan kedamaian
Meluluh lantahkan keraguan

Jalan ini entah kemana terarah
Entah kemana pula bersandar
Seperti debu dalam malam
Mencari secercah sinar terang

Duduk berpangku dibawah beringin
Tersipu gelak canda mereka
Bak menghina wajah nan merindu
Membayang wajah sang kekasih

Siapa mesti yang disalahkan
Siapa mesti yang dibenarkan
Lantaran secarik puisi
Bagai cupid dalam malu

Aku kan tunggui hujan di saat kemarau
Fajar pun akan ku tunggui meski dalam emosi malam
Seperti sejenak nafas ku berhenti dalam rindu
Aku kan tetap menunggu dirinya
Seseorang yang terlalu cepat menorehkan kerinduan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar