Dari
genggam tanganku mulai terasa
Sentuhan nafas yang tersedat karena kaca
Dikau menumpu lugu lutut yang luka
Pada bangku di istana kabut
Sentuhan nafas yang tersedat karena kaca
Dikau menumpu lugu lutut yang luka
Pada bangku di istana kabut
Hilang menebar senyap di reruntuh malam
Menjalin percumbuan pada bibir yang robek
Setengah darinya telah tertelan bersama ludah
Sepasang danau berembun di matamu
Segumpal kabut bermesra berhadapan
Ia merangkai bait-bait Shubuh
Seolahnya adalah peteduh indah di akhir Sya'ban
Riang suara bertemu dari segala penjuru
Meluruskan garis tangan perbedaan kita yang mati
Mungkin karena sepi atau sendiri
Dan berakhir hanya lewat mimpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar