Pagi di Pucuk mulut burung
Berkicau menyapu langit biram menyala
Lalu kulit rembulan berwarna perak kembali mengikis
Dan mencium merang yang hangat untuk tersaji
Dapur-dapur belakang rumah seolah ruang penentuan
Dimana rempah-rempahnya bernyanyi untuk si hati gadis
Seberang mata seolah menarik untuk berkasih
Lalu kemudian menyingsing dan berlari
Ia berlari dalam diam
Berlari di tepi waktu hingga di puncak hari ini
Kemudian duduk tak berkaki
Sambil mencium bibir mungilnya
Sayang, kata itu tersimpan di belukar matamu
Diantaranya tak satupun yang tumbuh dan menyuburkan kerinduan
Tiada sehangat teh nikmat sebagai pelega lidah yang tandus
Hanya sebatas cerita serigala si pemangsa domba di ladang usia
Sejak rumahku kau tinggalkan selamanya
Kini debu pun beranak pinak, sayang
Aku malu, aku ragu tak mampu
Bila harus menunggu untuk seputih embun bersamamu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar