Sabtu, 21 Juli 2012

Sirah Untuk Amira


Pagi di Pucuk mulut burung
Berkicau menyapu langit biram menyala
Lalu kulit rembulan berwarna perak kembali mengikis
Dan mencium  merang yang hangat untuk tersaji

Dapur-dapur belakang rumah seolah ruang penentuan
Dimana rempah-rempahnya bernyanyi untuk si hati gadis
Seberang mata seolah menarik untuk berkasih
Lalu kemudian menyingsing dan berlari

Ia berlari dalam diam
Berlari di tepi waktu hingga di puncak hari ini
Kemudian duduk tak berkaki
Sambil mencium bibir mungilnya

Sayang, kata itu tersimpan di belukar matamu
Diantaranya tak satupun yang tumbuh dan menyuburkan kerinduan
Tiada sehangat teh nikmat sebagai pelega lidah yang tandus
Hanya sebatas cerita serigala si pemangsa domba di ladang usia

Sejak rumahku kau tinggalkan selamanya
Kini debu pun beranak pinak, sayang
Aku malu, aku ragu tak mampu
Bila harus menunggu untuk seputih embun bersamamu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar