Denyut waktu memuncak,menanda gemerlap menanti pagi
Menghantar pada sebuah renungan, kala kita mengkeringatkan kening
Di setiap desah keringnya kulit yang retak, berantak-rantak
Tinggal pertanyaan untuk dipertanyakan terus menerus
Ada Nafas di tiap bulir padi
Merunduk memuja Kalam semesta
Memanen dirinya yang sendiri telah mati
Semenjak Negeri bermain hati
Pancungkan noda-noda hitam nan melumpur
Hijau tak lagi royo-royo, melainkan merumput tetangga
Daun-daun gugur karena menua dini
Air berlari mengalir tak berhenti untuk berteman
Kau kah itu "karena"
Karena itukah kau bertanya-tanya
Tentang siapa dan apa yang dibungkam?
Mati maka Innalillahi
Di setiap desah keringnya kulit yang retak, berantak-rantak
Tinggal pertanyaan untuk dipertanyakan terus menerus
Ada Nafas di tiap bulir padi
Merunduk memuja Kalam semesta
Memanen dirinya yang sendiri telah mati
Semenjak Negeri bermain hati
Pancungkan noda-noda hitam nan melumpur
Hijau tak lagi royo-royo, melainkan merumput tetangga
Daun-daun gugur karena menua dini
Air berlari mengalir tak berhenti untuk berteman
Kau kah itu "karena"
Karena itukah kau bertanya-tanya
Tentang siapa dan apa yang dibungkam?
Mati maka Innalillahi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar