Waktu itu, mendungpun menduga
Keberadaan yang tak sia-sia mulai menancap di
sukma
Tunggu sebentarlah dan jangan mencoba
Sesaat jua, semuanya segera berubah
Warna biru putih penanda untuk perjalanan
Kini memberi salam untuk musafir dari negeri
Sufi
Tergiringlah ia oleh kawanan angin
Mencoba menyatu, memaku rindu di kalbu
Memanggil-manggil namamu yang baru
Jejak mesti berteman dengap kaki
Lengan mesti berteman dengan pundak
Dengan punggung merunduk, merangkak bila harus
Asal tegak berdiri tanpa tongkat si buta
Di tengah nafsu
matahari yang semakin mendesah
Di tawarkannya kegemetaran di jemari yang
mengepal
Mereka yang semakin riang nan bising
Seolah mengajak untuk bercumbu ataukah beradu
Ada cerita usang tentang luka si bibir
Ada lebam mata di keletihannya
Ya,sebuah pesan jauh dirundung pilu
Didalam kerudung waktu yang berlalu
Bila sesampainya bertemu, apakah akan menyatu
Bila sesampainya bertutur, apakah akan saling
jujur
namun
sayang
Ia terlambat sampai di penghujung senja
Hanya gubuk reok
yang tersisa untuk bermalam
Dan sisa rayap-rayap yang saling bergejolak
Mungkin masih perlu untuk membuka bekal
kesabaran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar