Jumat, 29 Juni 2012

Dari Sebuah Pesan


Waktu itu, mendungpun menduga
Keberadaan yang tak sia-sia mulai menancap di sukma
Tunggu sebentarlah dan jangan mencoba
Sesaat jua, semuanya segera berubah 


Warna biru putih penanda untuk perjalanan
Kini memberi salam untuk musafir dari negeri Sufi
Tergiringlah ia oleh kawanan angin
Mencoba menyatu, memaku rindu di kalbu

Memanggil-manggil namamu yang baru
Jejak mesti berteman dengap kaki
Lengan mesti berteman dengan pundak
Dengan punggung merunduk, merangkak bila harus

Asal tegak berdiri tanpa tongkat si buta
Di tengah nafsu matahari yang semakin mendesah                            
Di tawarkannya kegemetaran di jemari yang mengepal
Mereka yang semakin riang nan bising

Seolah mengajak untuk bercumbu ataukah  beradu 
Ada cerita usang tentang luka si bibir
Ada lebam mata di keletihannya
Ya,sebuah pesan jauh dirundung pilu

Didalam kerudung waktu yang berlalu
Bila sesampainya bertemu, apakah akan menyatu
Bila sesampainya bertutur, apakah akan saling jujur
 namun sayang

Ia terlambat sampai di penghujung senja
Hanya gubuk reok yang tersisa untuk bermalam                     
Dan sisa rayap-rayap yang saling bergejolak
Mungkin masih perlu untuk membuka bekal kesabaran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar