Pintu Senja
Aku meniti urat nadiku
Menelusuri setiap jengkal bercak-bercak jejakmu
Mungkin masih sempat kutarik lagi;sebelum pagi
Sebentar, tunggu sebentar sebelum kau terlelap
Bukankah hujan januari masih menunggu kelahirannya
Dan perangai lugu kita telah tumbuh baligh
Sejenak kutarik nafas hingga langkahku berhenti dikeningmu
Karena aku ingat kau takan jauh berlari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar